Sabtu, 27 Desember 2014
Eling Karo Sing Kuoso!
Malam Minggu, Jono, sarjana pengangguran itu nongkrong di tempat kawannya yang sudah sukses. Bermodalkan rokok ketengan, Jono main ke rumah Najib, teman SMA-nya dulu, numpang ngopi.
Obrolan berlangsung seru. Najib bercerita panjang lebar tentang usahanya yang makin lancar. Tokonya maju pesat, bahkan sekarang hendak dionlinekan. Peternakan ayam potongnya pun tidak pernah merugi, justru semakin bertambah banyak. Penggilingan padi yang ia miliki dua minggu lalu bertambah lagi satu buah. Bahagianya.
"Jon, kamu kok nganggur terus, mau dikasih makan apa anak istrimu?" tanya Najib.
Jono tidak lekas menjawab. Ia ambil kopinya, diseruputnya dalam-dalam.
"Gini lho Jon, mestinya tuh kalau kamu laki-laki, pemimpin rumah tangga, tulang punggung rumah tangga, kerja dong. Masa sarjana nganggur. Aku saja yang kuliah tidak tamat sudah bisa begini," kata Najib sambil menceritakan usahanya yang makin lancar, rumahnya yang megah hasil kerja kerasnya, mobilnya, gadgetnya, dan lain-lain.
Jono terpekur. Ia nyatalakan batang rokok yang ia selipkan di dompet. Ia nyalakan korek. Ia hisap dalam-dalam.
"Jib, aku laki-laki, aku suami, aku ayah dari anak-anakku, aku kepala rumah tangga bagi keluargaku. Dan aku sangat tahu itu," Jono membuka jawaban ketika Najib.
"Kerja dong kalau begitu. Masa mau lontang-lantung terus?" sangah Najib.
"Jib, aku sudah melamar ke sana kemari. Berapa ratus ribu modal hutang sudah aku habiskan untuk mengirimkan lewat pos. Emailku juga penuh dengan lamaran kerja. Aku sudah hubungi kawan-kawan, tapi belum dapat. Mau baimana lagi?" Jono menyahut.
"Ya kan bisa kerja apa saja. Asal jangan gengsian. Kamu itu sih gensian, kerja kasar gak mau," ucap Najib.
Suasana mulai panas. Jono merasa dipojokkan. Nasib kasih makan anak istrinya gak, ngasih uang gak, cuma ngasih kopi saja malah memberi ceramah panjang lebar.
Kedatangan Jono ke rumahnya bukan untuk mendapatkan kuliah gratis. Jono ingin ada teman, siapa tahu memberikan solusi atau peluang, karena sudah 3 tahun dia menganggur.
"Jib, ente tahu gak, gua sudah kerja apa saja, tukang panggul di pasar, kuli bangunan, tukang cor aspal, tukang parkir, udah gua jalani. Untuk apa? Untuk anak istri Jib. Jadi jangan bilang gua gengsian!" nada Jono mulai meninggi.
"Maaf kawan, bukan maksudku begitu. Yang aku tahu kamu kan gak kerja, mungkin karena terlalu pilih-pilih pekerjaan, sehingga akhirnya nganggur. Maaf ya, soalnya aku gak tahu," sesal Najib.
"Sobat, tolong mengerti. Di kepalaku ini penuh dengan beban pikiran. Anakku kian besar, semakin banyak kebutuhan. Kebutuhan sekola, kebutuhan sandang dan kebutuhan-kebutuhan lain. Aku juga pusing. Mesti bagaimana?" jawab Jono lirih.
-----------
Obrolan Najib dan Jono adalah rekaan saya belaka. Namun demikian, banyak ya kejadian serupa terjadi sekitar kita? Apakah Jono malas, gengsi, atau apa?
Jono dan Jono-Jono yang lain bukan malas, bukan gengsi, bukan pula tidak mau bekerja. Jono sudah berupaya, Jono juga sudah melakukan berbagai pekerjaan, tetapi hasilnya masih begitu-begitu saja.
Ada yang salah? Pasti ada yang salah. Berapa banyak orang yang berpendidikan kurang, berlatar belakang ekonomi kurang, tapi akhirnya sukses? Banyak sekali.
Thomas Alva Edison, yang pernah dicap oleh gurunya sebagai orang terbodoh di dunia, karena menyebut namanya sendiri lupa, ia sukses dan kaya raya. Bukankah itu kurang pendidikan?
Berapa banyak orang yang tanpa modal, kemudian menjadi sukses besar, karena kemauan yang besar, disertai ikhtiar dan upaya?
Upaya, relasi, peluang itu sangat berperan penting atas keberhasilan kita. Tetapi yang sering dilupakan oleh kita yang ada di atas semua itu adalah campur tangan Tuhan.
Para ustadz di masjid-masjid dan pengajian mengatakan "kun fayakun", jadi maka jadilah. Jika Tuhan sudah menghendaki kita sukses, apapun bisa menjadikan kita sukses.
Dalam kondisi seperti, seharusnya Jono ingat pada Tuhannya. Bisa jadi ia sedang diingatkan Tuhan supaya lebih ingat lagi. Tuhan tidak akan pern
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar